Bermain Air di Kampung Main Cipulir

Posted by Antonius Dian Minggu, 23 Februari 2014 10 komentar

Wisata Murah di Tengah Kota Jakarta.

        Hari ini terasa begitu melelahkan tapi sangat menyenangkan. Karena seharian ini saya, istri dan anak saya yang masih berumur 2 tahun 3 bulan bermain air di Kampung Main Cipulir. Bukan berenang tapi cuma bermain air karena walaupun saya berbasah-basahan di kolam renang namun saya tidak melakukan aktivitas berenang sama sekali. Tujuan saya ke Kampung Main Cipulir atau disingkat KMC memang hanya ingin menyenangkan anak saya yang suka main air. Jadi ya saya singkirkan dulu keinginan saya untuk berenang dan menemani anak saya main di kolam renang anak.

         Sekedar informasi, KMC adalah wahana rekreasi alternatif dengan tarif yang cukup terjangkau di tengah kota Jakarta yaitu tepatnya di Jalan Masjid Nurul Yaqin, Cidodol, Kebayoran Lama. Letaknya memang agak tersembunyi jadi bagi yang pertama kali akan kesana kemungkinan akan sedikit susah menemukannya karena letaknya memang di belakan Kompleks Cipulir Permai. Patokannya adalah kalau dari arah Palmerah lurus saja ke arah Rumah Sakit Medika Permata Hijau, atau kalau dari Lebak Bulus/Gandaria City lurus saja ke arah ITC Permata Hijau sampai ketemu perempatan lampu lalu lintas. Di perempatan tersebut yang dari arah Palmerah lurus saja sedangkan yang dari arah ITC belok kiri sampai ketemu pom bensin. Setelah pom bensin ada pertigaan, disitu anda belok kanan lalu ikutin saja jalannya sampai ketemu pertigaan. Ambil arah kiri setelah itu lurus saja dan tidak jauh dari situ ada penunjuk jalan kearah KMC. Ikutin saja penunjuk jalannya yang nanti akan membawa anda melewati komplek perumahan yaitu Cipulir Permai. Nah KMC ada diujung kompleks tersebut.
          Langsung saja masuk ke area parkiran KMC dimana tarif parkirnya cukup murah yaitu fix Rp 2,000.- saja berapa jam pun anda parkir. Setelah memarkir kendaraan, anda masih harus berjalan sedikit melewati gang kecil yang jalanannya menurun sampai ketemu pintu masuk KMC.

            Untuk mendapatkan tiket masuk KMC anda tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam karena harga tiket masuknya sangat murah cuma Rp 7,000.- saja. Dalam hal ini saya cukup mengeluarkan uang Rp 14,000.- untuk saya dan istri dikarenakan anak dibawah usia 3 tahun tidak perlu bayar. Langung saja saya masuk dan menuju kolam renang KMC yang diberi nama wahana keceh (= Bahasa Jawa, artinya bermain air). Disitu saya diharuskan membayar tiket masuk lagi sebesar Rp 25,000.- per orang dan anak diatas  tahun diwajibkan membayar jadi ya untuk yang ini lumayan dalam juga merogoh kocek nya meskipun masih tergolong murah untuk ukuran Jakarta yaitu 75 ribu. Sebenarnya di KMC memiliki bermacam-macam wahana jadi tidak hanya kolam renang tetapi ada ATV, Flying Fox, Perahu dan beberapa wahana outbound lainnya. KMC menyediakan tiket terusan untuk semua wahana dengan sekali main tiap wahana yaitu Rp 57,000.- per orang.

              Balik ke topik semula yaitu menemani anak bermain air. Kolam renang KMC memang tidaklah semewah dan selengkap wisata air seperti Water Boom di Dufan. Cukup sederhana sebenarnya namun juga tidak mengecewakan paling tidak memiliki seluncuran dan cukup menarik desain kolamnya. Anak saya terlihat sangat menyukai bermain air disini apalagi saya dan istri juga aktif bermain bersama dia. Setelah cukup lama bermain kamipun beristirahat sebentar di tempat duduk yang disediakan di sekitar kolam renang. Perut pun terasa lapar. Untungnya ada beberapa penjual makanan yang berkeliling membawa daftar menu makanan dan minuman. Saya dan istri memesan baso dan teh hangat dengan harga baso yang tidak terlalu mahal yaitu Rp 12,000.- per porsi. Saya harus akui bahwa rasa basonya cukup nikmat apalagi jika dibandingkan dengan yang pernah saya beli di kawasan Monas dengan harga Rp 15,000.- per porsi. Sangat jauh rasanya.



                Setelah puas makan baso kami pun beranjak untuk membilas badan dan berganti baju. Nah disinilah saya agak kecewa dengan fasilitas bilasnya karena tidak ada sekat sama sekali di ruangan bilas nya. Sekat hanya ada di ruangan untuk berganti baju. Entah mengapa pengelola KMC membedakan tempat bilas dan tempat berganti baju. Hal ini tentu saja agak menyusahkan saya untuk membilas diri karena tidak memungkinkan bagi saya untuk membuka seluruh pakaian saya karena tidak hanya saya saja yang ada disitu. Walaupun ruangan itu khusus buat laki-laki namun tetap saja akan terasa risih. Walhasil saya tidak bisa maksimal membersihkan seluruh badan saya. Wah harus mandi lagi neh di rumah pikir saya.




                     Akhirnya kamipun beranjak pulang ke rumah. Rasanya lelah sekali meskipun hanya mencoba satu wahana di KMC tapi yang penting saya bisa menyenangkan anak saya yang kelihatan puas sekali. Secara keseluruhan KMC cukup memuaskan kami dengan fasilitasnya dan harganya yang cukup terjangkau. Bulan depan mungkin kami akan datang kesini lagi tapi kami tidak hanya akan bermain air saja tapi akan mencoba seluruh wahana di KMC.


Baca Selengkapnya ....

Hati-hati Memilih Taksi

Posted by Antonius Dian Kamis, 06 Februari 2014 2 komentar

Bijak Memilih Taksi di Jakarta.


           Posting kali ini saya akan berbagi pengalaman yang kurang mengenakan saat saya menumpang sebuah taksi yang di terminal Kampung Rambutan. Tujuan saya adalah hanya untuk berbagi dan bukan untuk menyudutkan atau mempromosikan label taksi tertentu. Sebenarnya kejadian ini sudah saya alami beberapa bulan yang lalu tapi saya rasa masih relevan lah dengan keadaan di Jakarta sekarang ini.

                Saya dan istri beserta anak saya secara berkala bertandang ke rumah mertua di Bandung. Kadang 3 atau 2 bulan sekali atau jika ada keperluan khusus. Biasanya pada saat pulang dari Bandung kami lebih memilih menyewa mobil daripada harus susah payah naik bis. Alasannya simpel sih, selain gk tega liat anak kami yang masih belum genap 2 tahun kecapean dan harus berdesakan di kursi bis yang sempit, kami biasanya juga membawa banyak barang dari Bandung ke Jakarta. Kebetulan saat itu kami terpaksa naik bis, ya  maklum lah dikarenakan keadaan ekonomi lagi pas-pasan jadi uangnya gk cukup buat nyewa mobil dan sesekali saya ingin memberi sedikit tambahan penghasilan untuk awak bis (=alibi..hehehe). Kami akhirnya naik bis CBU dengan tujuan akhir Kampung Rambutan.

                Singkat kata singkat cerita akhirnya kami sampai di Kampung Rambutan dan memang sudah niatan dari awal untuk mencari taksi. Namun niat awal kami adalah mencari taksi di luar terminal karena setahu saya banyak taksi BB dan Ex mangkal disana. Mengapa BB dan Ex? Karena sejak pertama saya menginjakan kaki di Jakarta sampai sekarang ya dua taksi ini yang menjadi best recommendation dari kenalan-kenalan saya yang udah lama bekerja dan tinggal di Jakarta. Jadi begitu turun dari bis kami langsung berjalan kearah luar terminal Kampung Rambutan sambil saya menenteng 2 tas besar dan istri menggendong anak kami. Tapi kami baru menyadari bahwa dari tempat kami turun sampai keluar terminal ternyata jauh juga dan sangat melelahkan apalagi dengan bawaan dan anak kami. Akhirnya istri mendesak saya untuk naik taksi yang ada di dalam Kampung Rambutan saja. Saya masih ingat nama taksi itu In*** Fam*** atau sebut saja IF. Supir taksi pun mendatangi kami dan menawarkan taksi. Saat itu saya sudah mulai curiga karena supir taksi nya tidak berseragam dan dia mengambil kunci taksinya dulu ke rekan supir lain disitu. Wah jangan-jangan ini supir tembakan neh. Saya mencoba berpikir positif dan tetap melanjutkan untuk naik taksi IF tersebut. Ah mungkin aja gk semua perusahaan taksi mengharuskan supirnya berseragam, lagian kasihan istri dan anak saya sudah kepanasan dan kelelahan.

                Saat didalam taksi saya agak sedikit tenang karena supir taksinya menyalakan argo dan itu berarti taksi ini bukan taksi borongan. Taksi kamipun lanjut berjalan keluar terminal Kampung Rambutan sampai memasuki tol. Nah disini lah dimulai si supir mulai melaksanakan modusnya. Tiba-tiba mobil bergoyang ke kanan lalu ke kiri seakan-akan lepas kendali. Tapi saya sangat tahu itu akal-akalan saja karena kebetulan saya sedang memperhatikan cara dia membawa taksi jadi saya tahu mobil sengaja dibelokin oleh si supir. Setelah itu si supir mengatakan kepada kami kalau rem nya blong. Pasti ada yang menyabotase neh kata dia yang sepertinya yakin saya percaya kata-katanya. Istri saya sempat panik karena memang dia belum tahu yang sebenarnya. Selanjutnya si supir bilang bahwa dia harus keluar tol dan berhenti di pinggir jalan daripada terjadi kecelakaan. Dia juga bilang mau menelepon temannya sesama supir taksi agar saya bisa pindah ke taksi temannya. Saya mengiyakan saja tapi begitu dia sudah berhenti nanti saya bakal langsung mencari taksi lain. Kalau saya menuruti kemauan dia dengan pindah ke taksi temannya ya sama saja keluar dari mulut harimau masuk mulut buaya kan. Akhirnya si supir membawa taksi nya keluar tol. Kebetulan jalan keluar tolnya agak menurun dan saya merasakan bahwa dia bisa mengurangi kecepatan beberapa kali memakai rem jadi sangat mustahil kalau rem nya blong. Mungkin dia pikir saya ini orang desa yang belum pernah merasakan naik mobil jadi bisa diakalin kaya gitu. Seperti nya dia tertipu oleh wajah lugu saya..hehehe.

          Sesampainya di pinggir tol di daerah Cawang si supir langsung keluar dan mencoba menelepon temannya. Saat itu juga saya ikutan keluar dan menyela bahwa saya mau naik taksi yang lain saja. Langsung saja saya stop taksi lain yang berwarna kuning yang kebetulan melintas yaitu Txk. Taksi yang satu ini memang bukan best recommendation dari kenalan-kenalan saya namun perusahaan taksi ini terkenal juga di Jakarta dan saya pernah naik sekali dulu jadi saya percaya. Saya pindahkan semua barang-barang saya kesitu dan pada saat saya mau membayar taksi IF tadi ternyata angka di argonya sudah melebihi 50.000. Di Jakarta uang segitu memang tidak seberapa tapi kalau tarif taksi dari Kampung Rambutan ke Cawang melalui tol dengan nominal segitu ya sangat tidak wajar. Padahal itu belum setengah perjalanan dari Kampung Rambutan ke rumah saya di daerah Kemanggisan Pulo, Palmerah. Seandainya saja saya tadi benar-benar pindah ke taksi temannya si supir tadi mungkin udh habis 150.000 sampai di Palmerah. Sebagai perbandingan saja, tarif taksi dari Palmerah ke Depok saja hanya berkisar antara 120.000 sampai 130.000 kalau tol dalam keadaan lancar.

               Akhirnya saya bayar saja supir taksi karbitan tadi dan segera naik ke taksi yang baru. Rasanya kesal dan marah bercampur di hati saya namun saya bisa apa. Yang penting saya cepat sampai ke rumah dan segera beristirahat. Di dalam taksi Txk saya bercerita ke pak supir apa yang baru saya alamin tadi. Dan saya mendapat info dari pak supir bahwa saya sudah tertipu oleh seorang supir tembakan yang memang modus nya seperti itu. Yaitu setelah taksinya berjalan beberapa saat tiba-tiba saja berakting mobil taksinya mengalami masalah entah itu ban nya atau mesinnya. Dan ternyata itu cara si supir untuk menurunkan penumpangnya dan mengopernya ke temannya. Dugaan saya sih modus itu dilakukan ya untuk melancarkan aksi main argonya. Kalau dioper-oper kan gk terlihat besar nominal argo nya di 1 taksi sehingga penumpang sedikit terkecoh dengan aksi mainin argo nya.

                 Saya pun sampai dengan selamat di rumah dan pada saat saya melihat argo taksi Txk tadi saya sangat lega krn saya melihat harga yang wajar yaitu 55.000. Ya sangat wajar karena seharusnya dari Kampung Rambutan ke Palmerah memang biasanya sekitar 70.000 sampai 75.000. Jadi tarif taksi dari Kampung Rambutan ke Cawang tadi yang seharusnya saya cuma membayar 20.000 sampai 25.000 malah saya harus membayar 50.000 karena si supir tembakan.

                    Dari pengalaman ini saya telah belajar untuk bijak memilih taksi dan alhamdullilah sampai sekarang saya gk pernah tertipu lagi. Kesimpulannya saat memilih taksi lihatlah terlebih dahulu nama perusahaan taksinya. Apakah terpercaya atau tidak. Untuk hal ini anda bisa meminta rekomendasi dari relasi anda yang terbiasa naik taksi. Kalau memang terpaksa naik taksi yang anda belum kenal pada saat membuka pintu lihat di bagian dashboard depan ada nomor bodi taksi atau tidak atau minimal kartu tanda pengemudi yang berisikan informasi pengemudi harus ada di bagian dashboard mobil. Kalau tidak ada lebih baik anda batal naik demi keamanan anda sendiri. Pengemudi juga harus berseragam yang menandakan bahwa itu adalah pengemudi resmi dari perusahaan taksi tersebut.

                          Demikian sharing pengalaman dari saya soal taksi di Jakarta. Cara memilih taksi diatas adalah berdasar pengalaman saya saja. Mungkin bisa di cari di mbah Google cara-cara lain untuk memilih taksi di Jakarta. Yupp lebih baik cari aman kan daripada mengambil resiko...



           


Baca Selengkapnya ....

Menjadi Seorang Mualaf

Posted by Antonius Dian Rabu, 25 Desember 2013 19 komentar

Hidayah yang Perlahan tapi Pasti. 


Hi guys... Ini posting pertama saya di blog ini. Sebenarnya saya bingung ingin menulis apa dengan bekal pengetahuan saya yang sangat pas-pasan ini (malah boleh dibilang hampir nol..hehehe). Akhirnya saya memutuskan untuk menulis pengalaman pribadi saya yang sempat membuat saya merasa berada di titik nadir kehidupan saya dan hubungan saya dengan keluarga sempat berantakan. Apa itu? Dari judulnya tentu anda-anda semua bisa menebak yaitu pengalaman saya saat memutuskan untuk menjadi mualaf. Hmm topik yang sensitif dan mungkin bisa menyinggung sebagian orang yang membaca. Makanya sebelumnya saya meminta maaf kalau ada dari tulisan saya ini yang menyinggung anda-anda yang membaca ini. Demi Allah saya tidak bermaksud seperti itu dan hanya bermaksud untuk membagi pengalaman saya barangkali bisa menjadi inspirasi bagi yang mungkin sedang memiliki masalah seperti ini atau bisa juga sekedar menjadi bacaan di waktu luang.

Oke sebelumnya kenalkan nama saya Antonius Dian Prastyo Widiutomo sebut saja Bunga... eh maaf sebut saja Anton..hehehe. Saya sekarang bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang IT. Dan karena pekerjaan inilah saya akhirnya pindah dari kota tercinta saya di Malang dan menetap di Jakarta. 

Tanggal 15 Maret 2008, merupakan tanggal jadian saya dengan istri saya sekarang. Awal perkenalan kami adalah melalui sms iseng dan entah kenapa bisa sampai seperti sekarang, kalau kata orang sih sudah jodoh. Istri saya yang saat itu masih kekasih saya merupakan pelajar SMK yang tinggal di kota Bandung sementara saya masih anak kuliahan yang tinggal di Malang dan setelah lulus sempat bekerja di Surabaya selama 1 tahun. Jadi singkat cerita saya dan istri saya menjalin LDR alias Long Distance Relationship alias hubungan jarak jauh. Saya cuma bisa bertemu dengannya sekitar 3-4 bulan sekali. Itu sangat menyiksa kami berdua disaat kami saling kangen tapi tidak bisa bertemu. Selain itu ada satu tembok besar yang menjadi penghalang di hubungan kami yaitu kami berbeda agama sehingga entah bisa sampai kapan kami bisa terus begini dan itu semakin menyiksa kami. Singkat cerita saya mendapat sebuah tawaran bekerja di perusahaan IT di Jakarta pada akhir 1 tahun saya bekerja di Surabaya. Tentu saja kesempatan itu tidak saya sia-siakan apalagi pemilik perusahaannya sendiri yang bersedia datang ke Surabaya untuk menyeleksi calon-calon karyawan dari Surabaya. Dan akhirnya saya diterima. Senangnyaaaa...

Setelah bekerja dan tinggal di Jakarta tentu saja saya jadi lebih banyak kesempatan bertemu kekasih saya di Bandung. Dari yang 3-4 bulan sekali sekarang jadi seminggu sekali bisa bertemu dengan kekasih saya yang sangat sangat saya sayangi dan cintai. So sweettt... Rasanya hidup jadi lebih indah meskipun tidak seromantis cerita FTV.

Semakin lama saya dan kekasih saya semakin saling mencintai dan sepertinya hanya Allah yang bisa memisahkan kami (sweet banget kan...). Akhirnya saya memiliki keinginan untuk menikahi dia meskipun saya tahu kami berbeda agama. Setelah saya bicarakan dengan kekasih saya akhirnya kami memutuskan untuk bicara terus terang dengan orang tua kami masing-masing bahwa kami ingin menikah. Soal agama itu urusan belakangan, begitu pikiran kami saat itu. Tapi tentu saja menjalankan keputusan semacam itu bukan masalah yang mudah. Sebulan setelah kami mengambi keputusan itu baru kami benar-benar punya keberanian untuk berbicara dengan orang tua kami masing-masing. Dan sangat mudah ditebak, keinginan kami ditolak oleh orang tua kami masing-masing dengan alasan tidak mungkin menjalankan sebuah rumah tangga kalau berbeda keyakinan.  Melihat penolakan tersebut akhirnya saya nekat mengambil sebuah keputusan yang bisa mengubah alur hidup saya secara keseluruhan. Saya memutuskan untuk mengalah dan akan masuk Islam demi bisa menikahi kekasih saya. Ayah saya sangat kaget mendengar keputusan itu namun akhirnya luluh juga mendengar penjelasan saya dan inilah yang membuat saya sangat bersyukur memiliki ayah dengan hati yang besar dan sangat mementingkan kebahagiaan anaknya.

Menjadi seorang mualaf... Ya itu adalah keputusan saya yang akhirnya saya jalankan dengan mengucap 2 kalimat syahadat beberapa hari kemudian. Dan saya pun resmi masuk Islam. Segera setelah itu tanggal pernikahan saya ditentukan. Bahagia? Belum.. Mengapa?  Karena saat itu saya masuk Islam demi menikahi kekasih saya. Dan karena itu saya tersiksa. Pertama karena saya harus belajar menjalani keyakinan yang selama ini sering berseberangan dengan keyakinan saya sampai-sampai di satu titik saya sempat bingung kepada siapa atau dengan cara apa saya bisa berdoa ketika saya dalam masalah bahkan lucunya saya sempat bingung dengan cara apa saya bisa melindungi diri saya dari gangguan hantu dan sebagainya karena saya tidak tahu harus berdoa dengan cara apa. Dengan cara yang lama sudah tidak mungkin karena saya sudah masuk Islam sementara dengan cara Islam saya juga tidak bisa karena saya tidak benar-benar meyakini Islam saat itu. Sekedar info, kata beberapa orang saya ini membuat makhluk-makhluk gaib tertarik dan akhirnya mengikuti saya (katanya sih tapi faktanya memang hal ini beberapa kali terbukti) maka wajar jika saya memiliki ketakutan seperti itu. Kedua, karena meskipun saya sudah direstui oleh ayah saya namun tetap saja ada beberapa penolakan dari beberapa keluarga saya yang membuat saya bersedih dan merasa dibuang oleh keluarga saya ya walaupun masih ada juga sebagian keluarga yang mendukung saya. Ketiga, saya memikirkan bagaimana tanggapan orang-orang di sekitar saya yang selama ini tahu saya beragama A (sebut saja begitu) sementara saat itu saya berpindah agama menjadi Muslim. Bagaimana pandangan mereka tentang saya. Jujur aja saya sangat malu saat itu baik kepada orang-orang dari agama A ataupun orang-orang muslim sendiri. Entah kenapa. Saat itu hidup saya penuh dengan tangisan. Hampir tiap hari saya menangis trutama saat saya sedang sendiri. Tiga masalah diatas membuat saya benar-benar berada di titik mental terendah dalam hidup saya. Sampai sering saya berdoa dengan cara saya yang lama "Tuhan jika memang ini keputusan yang salah maka aku mohon ambilah nyawa saya agar kesalahan ini tidak semakin lama saya jalani". Sebuah doa yang muncul karena ke-frustasian saya.

Setelah saya menikah dan akhirnya istri saya mengandung, saya tetap belum benar-benar meyakini Islam sebagai keyakinan yang sejati. Saya mau sholat tapi itu juga kalau ada yang mengajak namun gerakannya cuma mengikuti gerakan imam saja tanpa melafalkan bacaan shlat karena memang saya tidak pernah punya niat untuk belajar sholat dan bahkan saya belum pernah melaksanakan sholat Jumat saat itu. Sampai suatu saat kira-kira pada saat kandungan istri saya berumur 7 bulan saya terganggu dengan sebuah pemikiran saya sendiri. Kalau saya terus terombang-ambing diantara 2 agama seperti ini bagaimana dengan anak saya kelak. Bagaimana dia bisa menjalankan kehidupan religius nya kalau bapaknya yang menjadi panutannya saja masih bimbang soal agama. 

Akhirnya saya ambil sebuah keputusan. Saya akan mencoba menjalani ibadah secara Islam demi anak saya kelak. Tanpa saya sadari inilah keputusan yang menjadi titik balik dari semua permasalahan saya. Untuk pertama kalinya saya meminta seorang teman saya yang bernama Bagus Sadewa untuk mengajari saya sholat di masjid di seberang halte busway Sumber Waras Grogol. Saya meminta dia karena dia satu-satunya teman dekat saya saat itu di Jakarta. Thanks bro Bagus Sadewa. Dan beberapa hari kemudian untuk pertama kalinya saya melakukan sholat sendirian tanpa harus diajak oleh orang lain meskipun dengan bacaan yang tidak lengkap karena saya baru hafal surat Al-Fatihah. Thanks juga untuk Pak Cahya yang merupakan leader saya di kantor yang setiap hari mengimami saya sholat di kantor yang membuat saya semakin hapal gerakan sholat dan juga urutan bacaannya.

Lambat laun hidayah itu datang. Semakin sering saya bersholat ternyata semakin terasa sebuah kedamaian dan kecocokan di hati saya ini. Bahkan Allah pun sepertinya terus menerus memberikan petunjuk dan rangsangan agar saya semakin mencintai Islam. Contohnya ketika saya sedang dalam keadaan keuangan yang sulit sementara ada kebutuhan yang mendesak dan saya mencoba memohon bantuan kepada Allah ternyata jawabannya langsung datang esok harinya. Saya mendapatkan bonus dari kantor dengan nominal persis sebesar yang saya butuhkan padahal belum pernah saya mendapat bonus sebesar itu sebelumnya. Jawaban itu begitu cepat. Subhanallah... Dan begitulah sampai akhirnya anak saya lahir dan saya lantunkan adzan di telinga anak saya. Alhamdullilah ya Allah..

Demikian lah cerita saya mnegenai pengalaman nyata saya menjadi seorang mualaf. Insyaallah sekarang saya sudah benar-benar menikmati menjadi seorang muslim. Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pengalaman yang berguna bagi pembaca sekalian. Dan bagi anda-anda yang sedang memiliki masalah yang sama dengan tulisan saya ini maka ingatlah kalau Allah selalu memberi jalan kepada kita umatnya seperti yang telah Allah berikan kepada saya meskipun itu kelihatan mustahil sekalipun bagi manusia. Memohonlah dan percayalah bahwa Allah tahu yang terbaik buat kita.


Baca Selengkapnya ....
Cara Buat Email Di Google | Copyright of Berbagi Informasi dan Kehidupan.